Kenalan dulu deh ya.
Dibs is the name I've chosen for most of my virtual avatars. So Dibs I shall be called people!
A
Married to M. Husband.
Iyalah masak married to M. Wife. Tapi bisa juga sih... kayaknya udah legal ya di some states. US States that is.
Mother to J. 6. Grade 1 di salah satu sekolah National Plus di Jakarta.
Kerja? Iya dong... Walaupun berasanya nggak... Wow! Hebat banget! Pasti kerja di bidang yang emang passion-nya ya ampe berasa nggak kerja? Errrm... yes and no. But I don't want to talk about work in this blog. I talk about it all the time everywhere else anyways.
Jadi mau nulis tentang apa blognya Mbak? (Kok berasa mulai demanding ya yang bikin pertanyaan...)
Dibilangin nggak tau!!
Cerita soal ultahnya si M kemaren aja mau? Mau deh...
M kemaren 35. Tua ya.
Kayaknya baru kemaren deh kita ketemu. Ya emang M udah tua juga sih di jaman itu. I was 21 he was 26. Six year difference itu sesuatu banget.
Makanya aku
I've always had a thing for older men (Dari sekedar lebih tua sampai yang emang bener tua kayak Pierce Brosnan dan Nathan Fillion... Daddy issues kayaknya).
Anyways...
Kita makan-makan bertiga di Hanamasa. Aku, M dan I, adek ipar yang sukses udah nginep hampir 5 tahun di apartemen kecil kami. Mau nikan tuh si I. Nanti ya cerita si I ama calonnya, panjang soalnya.
Kenapa Hanamasa?
Jadi dulu si M bilang "Kalau kawin sama aku ya harus mau pas seneng dan pas susah juga".
Jadi walaupun penganut paham "Nggak ada bbq lain seenak Korean BBQ sekelas Bornga paling cemen Han Gang", karena deket rumah, terbukti sekarang lumayan enak dan relatif lebih murah... Kami 'bersusah-susah' dinner di Hanamasa.
Ya Amplop! Istigfar! Ratu Mesir ini emang keterlaluan ya standar susah kok Hanamasa... Just kidding lho pemirsa!
Dan Hanamasa emang enak kok. Sungguh. Walaupun dagingnya lebih tipis dari yang kuingat (Hey, aku makan Hanamsa juga lho pas ultahku Mei kemarin. Walaupun bareng-bareng ultah kantor...See aku bukan princess
Tapi ini bukan review Hanamasa sodara-sodara.
Balik ke M.
Selamat sekali lagi. Hepi Milad. Tahniah.
Semoga berkah dunia akhirat.
Seneng nggak punya istri aku (ujung-ujungnya cari pujian)?
Karena aku seneng jadi istrimu. Buat seseorang yang nggak suka perubahan, kamu sumber perubahan paling besar lho dalam hidupku. Cewrius!
Kalau nggak ada kamu, aku masih di Melbourne kali. Meraih Master yang sekarang udah nggak kepikir. Mungkin kerja di koran lokal atau paling hebat di Advertising Agency. Tapi mungking aku masih dating sana sini. Hidup penuh dosa dan tanpa tujuan. Atau mungkin di Jakarta tapi juga bosan. Hidup glamor dan kosmopolitan... Caelah! Mungkin lagi persiapan mau kawin sama laki-laki pilihan Ayah Ibu yang mapan tapi boring... Atau mungkin.... Huss berkhayal kejauhan.
Yang jelas aku masih diriku yang dulu. Yang matanya terbuka tapi nggak melek. Dari satu distraction ke distraction lainnya. Masih introvert. Nggak suka keramaian. Masih nongkrong sama yang itu-itu juga. Masih aneh. Masih nggak peduli. Masih keriting. Masih kurus hehehe
Semua berubah lho pas aku ketemu kamu. Perubahan itu pasti seperti dua mata koin. Positif dan negatif. Tapi yang jelas hidupku lebih seru. Banyak hal yang bisa dan MAU aku lakukan sekarang karena kamu.
I said this many times (to people who would hear it of course). "I did not marry my best friend. I did not marry the person who I was comfortable with. I married my total opposite. The one that brings much needed change. The one who challenged every core of my being. The one that rocked the boat."
With that being said... I still hate change. I tolerate them but I still sometimes despise it.
Penyesuaian tiada habisnya lho. Beneran deh. nanti ya diceritain lebih detail. Tapi kebayang nggak sih kalau dua individu dengan dua background yang jauh berberda, menganut paham yang berbeda, memandang semua hal di dunia dengan sudut pandang berbeda... beda pokoknya... tiba-tiba nekad kawin punya anak? Hehehe...
Dan yang paling penting... Saya nggak bosen-bosen sama si M. Ya karena begitu berbeda bentukannya. Jadi everyday and everything is a welcome challenge.
Ada rasa menyesal? Buat saya yang bosenan dan super moody ini, penyesalan kadang suka ngintip. Tapi karena saya juga fickle (apa sih bahasa indonesianya fickle? Peragu? Bingungan? Apa?) dan juga gampang terenyuh alias melankolis... Penyesalan saya tidak pernah lama. Selalu sukses digantikan rasa adem sekaligus penuh hasrat. Insya Allah kita nggak bakal bosen-bosen grunyeman (grunyeman bahasa Inggrisnya apa?) berdua ya.
Dan saya bersyukur karena ada M, saya jadi punya si J. Anakku yang unik yang needs a whole different post all to himself.
Eh Alhamdulillah udah Buka. Buka dulu ya! Insya Allah besok kita lanjut. Atau nanti malem?
No comments:
Post a Comment