Sebelumnya mau disclaimer dulu nih. Jadi setelah membaca ulang postingan-postingan sebelumnya kemaren dari iPhone pas otw pulang, ternyata memang konsep blog 'sekenanya' ini tercermin di gaya penulisannya ya. Alias acak adut spelling dan formatnya. Dan yang paling worrying grammar bahasa Inggrisnya yang bikin score TOEFL saya yang katanya tinggi itu, pepesan kosong.
Katanya perfeksionis seus? Kok begini amat? Iya I'm a friggin' perfectionist in real life. For things I care about ya. Capek? Banget! Thus pas udah nawaitu mau bikin blog se-mengalirnya, jadilah lepas bebas dan cenderung anarkis. Bablas kalau kata orang Jawa (Kayak reformasi aja...). Pengen lah sekali-kali the hell with it. Toh siapa yang bakal men-judge toh? (kalau nggak mau di judge jangan bikin blog seus...tulis aja diary terus digembok taro bawa bantal).
Salah deng, I'm not a perfectionist, I'm borderline OCD. Weks lebih parah. Jadi walaupun ini blognya niatnya udh nyante abis dan sekenanya, tetep ye eike bikin disclaimer menjelaskan kenapa blog ini berantakan ampe 3 paragraf lho. Dan the fact that I re-read the previous posts over and over, tangan gatel pengen klik edit mulu, terus mencoba meyakinkan diri sendiri kalau emang konsep blognya ya acak adut begini, shows that saya nggak santai sama sekali. Aduh mbak chill sikit bisa?
Udah ah!
Mau lanjutin cerita soal M kemarin.
Jadi udah kasi preambule kan kalau me and M itu layaknya night and day? (Bukan Knight and Day ya... Sumpah itu film oon banget. Bakal di remake lagi sama Bollywood... taruhan pasti lebih bagus).
Seberapa berbezanya kah saya dan M?
Kemarin itu saya host buka puasa di rumah. Wow! Hebat ya? Berasa ibu-ibu beneran. Ya walaupun cuma peserta saya, M dan sepasang suami istri yang merupakan dua sahabat saya dari kecil, tetep aja bangga. Saya jarang kedatengan tamu kecuali mertua dan keluarga. Apalagi sampai host makan-makan. Maklumlah
Nah dua sahabat saya yang kebetulan menikan to each other (baca: Jodoh. Walaupun putus sambung nggak keitung). Sebut saja mereka A (boy) dan F (girl).
Saya, A dan F berteman sejak SD. Walaupun pas SD saya lebih dekat dengan F dan pas SMP mulai dekat sama si A. Jadi kami dulu sekolah di salah satu perguruan
Nah apa yang terjadi bila dari SD sampai SMP kerjaannya tawaf di kompleks sekolah tersebut? Yap! Temen jadinya itu-itu aja. Bagaimana mau bergaul secara heterogen kalau selama 9 tahun, 6 days a week, dari pagi ampe sore ketemunya ama dia lagi dia lagi? Apalagi buat anak rumahan seperti saya yang kerjaannya cuma sekolah dan ngendon depan TV nonton laser discs di rumah (Et dah Laser Discs! Umur nggak bisa boong).
Jadi boleh dibilang saya punya teman-teman yang literally tau saya dari kecil. Begitupun sebaliknya. Di FB friend list saya kebanyakan ya mereka. Yang mukanya familiar dan nama lengkapnya saya hafal karena sering denger mereka di-absensi oleh guru. But thats another story. Nanti nggak nyampe-nyampe mau cerita tentang si M.
Intinya A dan F tau saya banget. Dan waktu jaman saya dan M pacaran, mereka ngerti banget kenapa saya merasa tertantang sama M. Deskripsi di bawah tentang tipe saya dan teman-teman saya bukan buat nyombong ya. Justru jujur banget. Emang begitu adanya dan bukan suatu kelebihan yang gimana-gimana juga.
Di sekolahan islami ini, saya menemukan niche group yang saya merasa nyaman. Geng kami (duile geng nih yee...) terkenal setipe. Kami anak baik dan lurus. Mostly nggak suka kehidupan gaul yang mainstream. Nggak suka dugem. Kalaupun dengerin musik seringnya di kafe itu pun pilih-pilih. Bahkan kebanyakan justru bikin musik alias main instrumen yang anjrit banget kayak biola. Sukanya kuliner yang unik-unik. Sebelum ramen dan sushi nge-trend geng saya ini udah punya tempat-tempat favorit yang nyempil kayak di warung jepang di pasar melawai. Kegiatan favorit adalah main board game atau charades di rumah salah seorang teman.
Kami juga harus berterima kasih sama RCTI yang udah jadi pelopor masukin sitcom-sitcom keren dari Amrik. Kami jadi barat minded banget in terms of taste in books, films, music and of course TV shows. Mungkin boleh dibilang kami lah yang memulai aliran geek chic di kalangan remaja Jakarta (paten dulu nih). Rata-rata geng kami ini anaknya lumayan pinter. Atau paling nggak ada Unique Selling Pointsnya (jadi bego math tapi jago sejarah dll). Kami terbiasa ngomong Inggris dengan sesama. Sekali lagi bukan sombong, tapi old habits die hard.
SES geng ini juga merata krn udh kena filter sekolah kami yang lokasi oke banget, namanya harum banget dan biayanya gokil banget (pada jamannya). Jadi rata-rata anak orang berada semua. Beres SMA, hampir semua sekolah di luar. Yang pinter hampir semua pada masuk UI atau universitas negri lain. Homogen banget ya?
Setelah keluar dari cocoon sekolah dan menjalani hidup di dunia yang kebih beragam, kami masih keep in touch. Seolah masing-masing nggak rela meninggalkan comfort zone yang emang nyaman banget ini. Jadi walaupun udah punya temen baru, dunia baru bahkan keluarga baru, kami masih kangen 'pulang'.
Dan secara nggak sadar, kami masih membawa sensibilitas yang membuat kami lekat dan erat jaman baheula. Cowok-cowok di geng ini rata-rata ini rata-rata jadi orang yang lurus dan Alhamdulillah sukses. Mau cari cowok-cowok baik dan gentleman? Akan melindungimu dengan inteletualitas dan bukan dengan otot? Yang tau gimana bikin cewek kagum dengan men-quote Shakespeare atau membuatmu heran karena dia hafal sejarah suatu negara sampai ke istri kedua raja pertamanya? Sayang! Kalian telat! High quality jomblo di geng saya sudah menikah semua.
Dan menikahnya sama temen satu geng (Yassalam!). Karena cewek-cewek di geng kami memang comfort banget dengan tipe cowok seperti itu. Karena kami cewek baik banget. Ya itu dia, pas orang lain dugem kami lagi main charades di rumah. pas orang lain nge mall buat pacaran, kami lagi nge mall juga. Nongkrong di Kinokuniya dan Times cari buku-buku baru.
Ini bukan pencitraan lho. Sungguh.
Nah pas bukber itu, A memulai topik soal masa kecil dan remaja. Dan M, seperti biasa karena doi emang doyan
As I mentioned over and over. Saya ini bosenan. Butuh tantangan. Masa saya kawinnya sama A yang hampir sama semuanya ama saya? Kan nggak seru. Mungkin kami nyaman. Tapi terlalu nyaman. Bisa-bisa all we do adalah main game di rumah. Dan mungkin kami sudah segede kuda nil karena keenakan kuliner. Dan karena kami berdua nggak suka basa basi adanya males dan make effort kenal orang lain.
M itu anak gaul. Eh salah bukan gaul... tapi liarrrr hahaha. Masa kecil doi brutal. Sebut saja jenis kenakalan anak kecil dan remaja. M pasti pernah melakukan atau paling banter menyaksikan. Berantem? Iya dong. Macho banget kan. Main perempuan? Pastilah... banyak yang mau soalnya. Dugem? Ampe apal bouncer-bouncer seantero Jakarta.Temennya banyak. Heterogen se-heterogen-heterogennya. Dari yang tajir melintir sampai yang biasa-biasa aja. Bahkan ada yang jadi artis modal sensasi yang hits banget 3 tahun terakhir. Ada tuh di bbm friend list dia (Kok bangga??).
Kocak deh. Si A dan F sampai nggak mingkem denger anekdot masa kecil suamiku yang ajaib. Pernah ngegebugin guru dan hampir bakar sekolah juga diceritan (Subhanallah... Jangan ditiru ya adek-adek...tapi ini true story lho. HOROR!).
Lha terus? Sampeyan nggak takut sama cowok model begitu? Walaupun si M udah tobat dan diselamatkan oleh ajaran agama bokapnya yang nempel pel kayak perangko, tetep aja serem dong harusnya sama cowok brutal. Apalagi buat ukuran princess seperti saya yang kalau dulu keluar dari Jakarta Selatan aja langsung jetlag.
Dari masa kecil suamiku yang rada-rada syerraaam, banyak personality traits positif yang dia bawa seperti saya juga membawa banyak personality traits yang dibangun saat-saat beranjak dewasa. Doi pandai bergaul. M bisa ikrib sama siapa saja right from the moment of perkenalan. Kalau orang yang diajak kenalan jaim, paling tidak suamiku bakal mengeluarkan kegombalan luar binasa agar akhirnya orang itu rada terbuka.
Kegombalan luar binasa itu juga menghasilkan seorang salesman sejati yang bisa jual nasi ke pak tani penanam padi. M juga amat sangat tenang menghadapi asam garam kehidupan. Ya iyalah! Pengalaman doi yang lebih buruk segudang! Merindiiing... Beda banget sama saya. Saya nggak suka ketemu orang baru. Males cing! Apalagi kalau orang tersebut langsung nggak sama frekuensi dan nggak dapet chemistrynya. Inget namanya aja nggak bakal. Banyak yang bilang itu artinya saya sombong. Sumpah bukan! Itu artinya saya nggak peduli. Eh sama aja ya? Saya males effort berlebihan buat sesuatu yang nggak ada direct pengaruhnya ke saya. Nggak bakat deh suruh ikut gathering dan diharap bisa networking.
M juga orangnya sederhana. Mau bilang simple minded kok nggak tepat ya. Pragmatis lebih tepat kali ya. Bukan pemimpi dan tidak punya passion yang menggebu-gebu pada suatu hal. Jadi nggak ada drama-dramanya sama sekali. Nggak bakal betah ngebahas Inception sampai tingkat-tingkat mimpi dan kick mana aja yang terjadi (Itu conversation kita banget ya kaaan,,,, colek mas A). Nggak bakal juga mau main charades dengan tema buku-buku lawas seperti The Neverending Story atau Lord of The Rings (Ampun A itu kitaaa banget hahahha). Walhasil M is the ground I step on when my head is up in the clouds.
Saya suka sama M karena sama dia saya jadi saya yang lain. I dont believe in always being yourself. Iya kalau yourself yang dimaksud itu pribadi yang emang mengagumkan. Kalau pribadinya kayak saya yang pemimpi, pemalas dan drama
Saya lebih toleran. Sampai A heran saya jadi kelewat toleran begini. Saya mau diajak ke situasi-situasi yang jauh di luar comfort zone saya. Saya lebih mau ngerti apa artinya basa basi. Kenapa kadang nggak bagus hilang di dunia sendiri. Saya juga mengerti bahwa tampilan itu penting. To dress the part. Gak lebay. Jadi si M ini sangat amat rapi dan proper. Saya ini percaya individual style dan fashion secara berlebihan.
Dan yang super penting, M tau lebih banyak dari saya tentang kehidupan. Saya boleh lebih pintar (bwahahahah tampar diri sendiri), tapi M lebih tau gimana menyikapi persoalan kehidupan yang kadang pengen bikin kunci kamar dan main The Sims aja ampe lieur yang mana idup virtual yang mana realita. Mata saya terbuka terhadap dunia baru yang ternyata masih luas ini.
Saya juga membawa perubahan dan pengaruh besar dalam hidup si M lho. Nggak mau kalah dong! Sombong dikit boleh ya? (Lha dari tadi apa neng?). Saya percaya M jadi orang yang lebih baik karena saya. M jadi bisa mengapresiasi hal-hal yang saya apresiasi. Jadi suka mencoba hal baru yang tadinya dianggep aneh. Jadi suka baca. Jadi suka diskusi-diskusi sok intelek juga. Suka nonton foreign films. Dan akhirnya, setelah sumpah-sumpah nggak mau makan ikan mentah, M suka sushi juga.
I introduced M to my easy breezy life. Filled with charades, board games, books and overtly intellectual discussions over coffee or some exotic foods. Dan kayaknya dia kagum juga liat kita. Walaupun jangan ngarep dia mau main charade lagi. Dan dia juga nggak bakal apal film-film Wong Kar Wai itu tentang apa (hanya ada satu tema: displacement...sekali lagi maaf sombong).
Kehidupan keluarga M dan saya juga beda banget. Tapi kalau di post disini kepanjangan banget. Ini aja kok rasanya bacanya udah males saking bertele tele ya. Nanti deh saya ceritain kehidupan keluarga saya dan M. Seru lho. Apalagi kalau saya cerita soal how M and I view religion? Waduuuh bisa-bisa 3 kali post. Jadi santey... kita sudahin dulu postingan bdaynya si cancer ini ya.
That is why I'm very happy with M. M juga begitu (kayaknya ya... awas nggak). Yakin kalau M kawin ama cewek yang tipe gaul dan seliar dia, dia nggak bakal bisa. Bahkan M sendiri pernah bilang, dia cari istri yang bisa membawa perubahan baik buat dia. And I believe thats what happened people! We rock each other's world.
Masih suka terkaget-kaget dengan pribadi dan kebiasaan masing-masing? Masih!! M masih heran kenapa saya seneng banget nonton YouTube/baca buku sampai pagi dan saya masi heran kok bisa-bisanya dia nggak tau kalau nama karakter Warm Bodies itu diambil dari Romeo and Juliet (R itu Romeo, Julie itu Juliet, M itu Mercutio... Kan bener kan??)
So after much hoopla that seemed like forever:
Happy Birthday M. I love you. Thank you for making my life as rich and as exciting as it is.
No comments:
Post a Comment